Minggu, 25 Juli 2010

Menelusuri Hakikat Makna Shaum Ramadhan


Berbicara mengenai shaum, atau lebih umum dikenal dengan istailah puasa (walaupun tidak begitu identik secara terminologi dengan shaum) adalah pembicaraan yang sebenarnya sudah sering dan berulang kali dibahas. Tentunya hal ini dipengaruhi karena shaum sendiri secara periodik dan rutin kita laksanakan, sehingga sangat lumrah berbicara tentangnya karena memang bertepatan pada momennya ini.
Namun seiring dengan pelaksanaan shaum yang rutin setiap tahun kita laksanakan, ada indikasi akulturasi dari ibadah tersebut. Artinya, secara sadar atau tidak kadang ibadah puasa tersebut berubah fungsi dari ibadah menjadi suatu budaya yang tidak berbeda dengan kebiasaan lain dan cenderung menjadi rutinitas tahunan belaka. Perubahan fungsi dan peran Shaum tersebut tentunya berpengaruh terhadap target dan tujuan puasa yang sebenarnya juga. Untuk mengembalikan Shaum pada hakikatnya yang sebenarnya, maka perlu penelusuran lebih jauh mengeniai shaum tersebut, dengan catatan harus atas dasar atau dalin yang otentik dan objektif. Dalam hal ini yang menjadi dasar rujukan otentik kita adalah AlQuran dan AsSunnah.

Mengawali pembahasan ini atau bisa dibilang diskusi, penulis akan memulai dengan Ayat AlQuran yang berkaitan dengan Shaum yaitu Albaqoroh 183 yang artinya

"Hai orang-orang beriman diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa"

Dari ayat ini dapat diketahui bahwa puasa adalah suatu proses yang punya tahapan, sama seper ti proses produksi. Ada input - proses - output. Dalam hal ini inputnya adalah orang beriman, prosesnya adalah puasa, dan outputnya adalah insan bertaqwa.

Yang menjadi persoalan apakah kita memahami masing-masing tahapan ini. Apakah sebenarnya orang beriman itu? Apakah setiap orang yang islam itu beriman? Apakah kriteria orang dikatakan beriman? Bagaimana pula dengan puasa? Apakah setiap orang yang muslim sudah wajib puasa? Bagaimana pula dengan taqwa? Apa sih ciri-ciri orang yang bertaqwa, yang tujuan puasanya tercapai? Semua ini akan kita bahas sacara perlahan berdasarkan landasan yang jelas dan objektif yaitu menurut Al-Quran dan Sunnah.

[to be continue....]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar